Judul : Transformasi Inspektorat Sangihe: Tinggalkan Paradigma "Pengawal", Utamakan Filosofi Matilang
link : Transformasi Inspektorat Sangihe: Tinggalkan Paradigma "Pengawal", Utamakan Filosofi Matilang
Transformasi Inspektorat Sangihe: Tinggalkan Paradigma "Pengawal", Utamakan Filosofi Matilang
SANGIHE, Elnusanews – Usai resmi dilantik oleh Bupati Kepulauan Sangihe pada 18 Mei lalu, Kepala Inspektorat Daerah Kabupaten Kepulauan Sangihe langsung bergerak cepat. Pada 100 hari pertama kerjanya, fokus utama diarahkan pada pembenahan internal dan penguatan sistem pengawasan secara menyeluruh.
Saat dikonfirmasi awak media di ruang kerjanya pada Kamis (21/5/2026), Kepala Inspektorat Daerah Kabupaten Kepulauan Sangihe, Willy Tucunan, mengungkapkan bahwa langkah awal yang diambil adalah menginventarisasi seluruh data pengawasan dari setiap Inspektur Pembantu (Irban). Data ini mencakup wilayah kerja Organisasi Perangkat Daerah (OPD), kecamatan, hingga tingkat kampung.
Menurut Tucunan, arah pembangunan pengawasan ke depan harus berjalan selaras dengan visi dan misi pemerintahan Bupati Michael Thungari dan Wakil Tendris Bulahari. Untuk itu, Inspektorat Daerah kini melaksanakan kolaborasi filosofi lokal, yaitu Matilang, Mateleng, Mateling su larungu Metatengkang berarti jernih dan tenang dalam menyikapi informasi digital yang berkembang cepat.
"Mateleng bermakna peka dan responsif mendengar informasi yang diterima. Mateling adalah ketaatan penuh pada peraturan perundang-undangan yang berlaku. Sementara Metatengkang menekankan sikap saling menghormati antara tua dan muda, serta antara auditor dan objek yang diperiksa," urai Tucunan.
Ia menegaskan, paradigma kerja Inspektorat saat ini telah bergeser. Lembaga ini tidak lagi sekadar berperan sebagai 'anjing pengawal' yang menakutkan, melainkan sebagai lembaga pemberi jaminan (assurance) yang membuka ruang konsultasi bagi perangkat daerah dalam menjalankan tata kelola pemerintahan.
"Paradigma Inspektorat harus berubah. Kita bukan lagi mencari-cari kesalahan, tetapi memberikan pendampingan dan ruang konsultasi agar pelaksanaan pemerintahan berjalan baik, akuntabel, dan sesuai aturan," tegasnya.
Sebagai fondasi kepemimpinannya, Tucunan tengah memetakan seluruh wilayah pengawasan agar arah kerja dan hasil (output) yang dicapai menjadi lebih jelas serta terukur.
"Di setiap wilayah itu ada OPD, kecamatan, dan kampung. Semua data harus dipetakan agar kita tahu pasti arah pengawasan dan target output-nya," jelas Tucunan.Ia menargetkan, seluruh program dan pola kerja baru di lingkungan Inspektorat ini sudah dapat berjalan efektif sesuai rencana setelah bulan Juni mendatang. Meski ada pembaruan sistem, pelaksanaan Program Kerja Pemeriksaan Tahunan (PKPT) tetap menjadi prioritas utama.
"Semua harus tetap mengacu pada PKPT. Konsekuensi waktu dan anggaran tentu menjadi faktor utama yang kami perhitungkan dalam pelaksanaan pengawasan ini," ungkapnya.
Terkait realisasi anggaran, Tucunan mengakui bahwa pihaknya saat ini sedang melakukan evaluasi internal bersama sekretariat Inspektorat. Langkah ini diambil untuk menghitung capaian riil penggunaan anggaran hingga Mei 2026.
"Di sisa semester pertama ini, idealnya realisasi anggaran Inspektorat sudah mencapai 30 hingga 40 persen. Saat ini kami sedang menghitung progres riilnya, karena penyerapan anggaran ini akan berjalan beriringan dengan program kegiatan yang akan kami laksanakan ke depan," pungkasnya.
(OpMud)
Demikianlah Artikel Transformasi Inspektorat Sangihe: Tinggalkan Paradigma "Pengawal", Utamakan Filosofi Matilang
Anda sekarang membaca artikel Transformasi Inspektorat Sangihe: Tinggalkan Paradigma "Pengawal", Utamakan Filosofi Matilang dengan alamat link https://iniipost.blogspot.com/2026/05/transformasi-inspektorat-sangihe.html
