Judul : Di Antara Jeda, Demokrasi Tetap Bekerja
link : Di Antara Jeda, Demokrasi Tetap Bekerja
Di Antara Jeda, Demokrasi Tetap Bekerja
Manado, Elnusanews – Sering orang menyebut masa ini sebagai masa non-tahapan. Seolah Pemilu sedang benar-benar berhenti, seolah kerja-kerja pengawasan ikut terlipat rapi dan disimpan di lemari waktu. Namun, sebagaimana ditegaskan Ketua Bawaslu Provinsi Sulawesi Utara, Ardiles Mewoh, cara pandang seperti itu terlalu sempit. Demokrasi tidak mengenal jeda yang benar-benar sunyi. Ia bergerak dalam siklus yang utuh, saling terhubung, dan terus berdenyut.
Dalam sebuah forum "Ngabuburit Pengawasan" bertajuk "Penguatan Tata Kelola Kelembagaan Bawaslu di Masa Non Tahapan Pemilu" pada Selasa, 24 Februari 2026, Ardiles mengajak seluruh peserta yang ada maupun lewat zoom, untuk melihat lebih jauh. Ia merujuk pada literatur yang diterbitkan oleh International IDEA yang membagi siklus Pemilu ke dalam tiga fase besar, pre-election period, election period, dan post-election period. Di antara fase-fase itu, ada ruang yang kerap disalahpahami.
Ruang itu disebut inter-election period. Masa penghubung antara post-election period dan pre-election period. Sebuah jembatan, bukan ruang kosong. “Kita tidak bisa sepenuhnya menyebut ini sebagai masa non-tahapan,” jelas Ardiles. Sebab pada fase inilah penguatan sistem, pembenahan regulasi, dan konsolidasi kelembagaan justru berlangsung secara lebih mendalam. Yang tampak tenang di luar, sering kali justru paling sibuk di dalam.
Ia memberi contoh negara-negara dengan konsolidasi demokrasi yang kuat. Di Australia, masa jeda dimanfaatkan untuk pemutakhiran data pemilih secara berkelanjutan. Tidak menunggu tahun politik datang mengetuk. Di India, periode ini digunakan untuk memelihara mesin electronic voting dan memperkuat sistem administrasi kepemiluan. Negara-negara itu tidak memperlakukan jeda sebagai waktu istirahat, melainkan sebagai fase strategis untuk memastikan kesiapan yang lebih matang.
Dapat ditangkap satu pesan penting dari pemaparan itu. Kualitas pengawasan pada hari H sangat ditentukan oleh kesungguhan kerja pada hari-hari yang dianggap sepi. Evaluasi menyeluruh atas pengawasan sebelumnya, pembenahan tata kelola, penguatan kapasitas internal, semua itu tidak bisa dikerjakan secara tergesa ketika tahapan sudah berjalan. Fondasi harus disiapkan jauh sebelum riuh dimulai.
Bagi Bawaslu Sulawesi Utara, masa inter-election period adalah ruang konsolidasi. Ruang untuk menata ulang, menguatkan barisan, dan memastikan bahwa setiap celah yang pernah muncul dapat diperbaiki. Fondasi kelembagaan yang kuat hari ini akan menjadi penopang integritas pengawasan esok hari. Demokrasi, pada akhirnya, bukan hanya soal momentum pencoblosan. Ia adalah proses panjang yang dirawat dengan sabar.
Kegiatan tersebut diikuti secara daring oleh jajaran Bawaslu Kabupaten dan Kota se-Sulawesi Utara, juga para alumni Pendidikan Pengawas Partisipatif. Di layar-layar yang terhubung itu, saya melihat satu kesadaran yang sama. Bahwa di antara jeda, sesungguhnya kita sedang bekerja. Dan mungkin justru di sanalah masa depan kualitas Pemilu sedang ditentukan.
(Rendai Ruauw)
.
Demikianlah Artikel Di Antara Jeda, Demokrasi Tetap Bekerja
Anda sekarang membaca artikel Di Antara Jeda, Demokrasi Tetap Bekerja dengan alamat link https://iniipost.blogspot.com/2026/02/di-antara-jeda-demokrasi-tetap-bekerja.html
